Beranda > Umum > pesona “piyantun dhusun”

pesona “piyantun dhusun”

lukisanalamdesaKetika kita mendengar kata “piyantun dhusun” kira-kira apa yang terlintas di benak kita? Kebanyakan dari kita akan berpikir tentang sosok yang ‘ndeso‘ , kuno , gaptek dan sebagainya pandangan lain yang bernada sama. Namun apabila kita menyelami lebih dalam kehidupan “piyantun dhusun” maka kita akan menemukan sisi lain , sisi positif yang jarang bisa ditemui selain dari “piyantun dhusun“‘. Saya sebut disini sebagai pesona “piyantun dhusun“. Apa sajakah pesona itu? Inilah sebagian kecil yang bisa dituliskan.

1.Kejujuran

Inilah yang patut dibanggakan dari “piyantun dhusun”. Orang – orang desa pada umumnya masih memegang teguh yang namanya kejujuran. Sesuai pepatah jawa mengatakan “ajining dhiri gumantung saka ing lathi” ( harga diri seseorang tergantung kepada lidah/ucapannya). Setiap kita pasti setuju bahwa seseorang yang jujur maka kita akan menghargainya sedangkan seseorang yang suka berbohong maka kita akan meremehkannya. Kejujuran “piyantun dhusun” bersifat alami dalam artian bahwa di balik kejujuran mereka tidak tersimpan niat untuk merugikan oranglain.

2.Toleransi dan Rasa Kekeluargaan antar Sesama

Toleransi dan rasa kekeluargaan “piyantun dhusun” sangat tinggi. Mereka peduli dengan keadaan sekitarnya , apalagi tetangga-tetangga dekat mereka. Seakan-akan mereka sudah seperti saudara meskipun tidak diikat oleh darah keturunan. Mereka akan rela memberikan bantuan kepada tetangganya jika dalam kekurangan , bahkan tanpa perlu diminta.
3.Rasa Kebersamaan

Yup inilah yang menjadi ciri utama “piyantun dhusun“. Pepatah jawa mengatakan ” mangan ra mangan waton kumpul ” yang artinya makan atau tidak makan yang penting berkumpul. Ini merupakan salah satu wujud rasa kebersamaan. Dan inilah yang sampai sekarang masih dilestarikan. [ tapi bagaimana jika pepatah itu diubah sedikit menjadi ” mangan ra mangan waton wareg “????? hehehehe…]

4.Alami ( natural )

Piyantun dhusun” dikenal dengan ke-alami-annya. Dari sikapnya yang alami ( polos dan lugu ) , makanannya yang alami dan yang tak kalah penting adalah orangnya yang alami.  “Piyantun dhusun” tidak suka hal yang aneh – aneh. Mereka terbiasa tampil apa adanya. ( ada mobil yaa dipakai , ada rumah besar yaa ditempati dan lain sebagainya ..hehehehe . .) . Dari segi fisik dan pikiran “piyantun dhusun” masih murni 100% alami tanpa bahan pemanis buatan.

Itulah sedikit dari yang bisa ditulis mengenai “piyantun dhusun”. Dan masih banyak hal lain yang belum bisa dituliskan disini. Jika ingin lebih tahu banyak dengan “piyantun dhusun” lebih baik berhubungan langsung dengan para “piyantun dhusun” baik dengan tinggal di desa , membaca literatur tentang desa dan penduduknya maupun dengan bertanya dan berkelana..

  1. 7 September 2007 pukul 10:04 am

    nggih kadosipun meniko enten lerese, namung mboten sedoyo lho tiyang dusun meniko kados mekaten, wonten ugi engkang mboten jujur, menang-menangan, mboten toleran, lan enten engkang sampun “gauuuul” dados mboten alami malih.
    Ning kadose meniko sampun limprah kok, wong ing kemajuan jaman meniko bates antawisipun dusun kalian kitho meniko sampun mboten ketawis.. lak nggih tho?…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: