Beranda > Bait > Hidup di Ujung Jalan

Hidup di Ujung Jalan

Usianya masih begitu muda
Raut wajahpun tidak nampak begitu tua
Namun jalan kehidupan telah memaksanya
Menanggung beban kehidupan nyata

Berbalut baju lusuh dan langkah tertatih
Menyusuri tiap jengkal jalan protokol
Dipanggang cahaya surya yang kian menyengat
Bermandikan peluh dan keringat

Tangan kecilnya telah terbiasa
Menadah di setiap lampu merah
Mengetuk kaca jendela
Menanti beberapa keping ratusan diberikan

Dari kejauhan sepasang mata mengawasi dan menghitung
Setiap kepingan yang jatuh ke tangan kecil itu
Siap untuk dirampasnya dengan paksa
Tanpa belas kasihan tanpa air mata

Surya telah menampakkan panasnya
Sementara tangan itu makin terampil
Keping demi keping terkumpul
Meski tak berharap akan menguasainya

Ketika sang surya perlahan tenggelam
Kaki kecilnya melangkah menuju suatu tempat
Berkumpul bersama teman-teman sebayanya
Untuk satu tujuan: setoran

Mata itu kian tajam mengamati
Gerak-gerik penuh curiga
Dengan teliti diperiksa saku baju lusuh itu
Berkali-kali hingga pasti tak ada yang tersisa

Wajah kecil itu penuh harap
Ada secuil kemurahan si mata tajam
Beberapa keping ratusan
Sekedar mengisi perutnya yang sedari pagi sepi

Malam terus berjalan
Membawa tubuh kecil itu ke alam mimpi
Bertemu malaikat dan bidadari
Berharap hidup yang lebih indah dari dunia ini

Begitu indahnya
Seulas senyum terkembang di bibirnya
Hingga suara gertakan itu menggema
Pertanda hari akan dimulai lagi

Bukan lagi hidup di alam mimpi
Bukan lagi bersanding malaikat dan bidadari
Namun hari yang sama seperti kemarin
Dalam pelukan jalanan yang semakin dingin

Entah sejak kapan ia menyadari hidup ini
Begitu kejam terhadapnya
Yang ia tahu sejak ia mengenal dunia
Ia telah hidup di jalanan entah sampai kapan

Baginya hidup adalah hari ini
Bisa sekedar bertahan dalam kerasnya kehidupan
Dan esok tetap mampu bertahan
Sampai ada malaikat datang menjemputnya

Tak lagi terpikirkan tentang masa depan
Tak lagi ada waktu untuk mengenal Tuhan
Yang ia percaya bahwa hidup
Harus ia jalani : terpaksa atau sukarela

[11:03 05/11/2009]

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: