Beranda > Opi Niku > Berbahasa Jawa itu Gampang-Gampang Susah

Berbahasa Jawa itu Gampang-Gampang Susah

“Dhumateng poro lenggah sedoyo yang kawulo urmati, monggo pertama-tama kito tansah ngaturaken puji syukur wonten ngarso dalem Alloh SWT ingkang sampun paring rohmat dan nikmat-Nya dhumateng kito sedoyo……<dan seterusnya>”

Sepenggal sambutan di atas merupakan hal yang biasa ditemui ketika kita menghadiri kegiatan masyarakat Jawa di desa. Sepintas bagi sebagian orang Jawa sudah hal yang lumrah dan biasa. Namun ketika kita cermati dengan seksama ada hal yang membuat kita berpikir dan merenung.

Sudah sepantasnya bagaimanapun kegiatan tradisi masyarakat Jawa harus menggunakan bahasa Jawa resmi. Yaitu penggunaan bahasa jawa yang benar dan tepat serta tidak tercampuri kata-kata selain bahasa jawa kecuali untuk istilah tertentu yang memang lebih mudah dipahami dengan bahasa lain.

Sementara untuk saat ini penggunaan bahasa jawa resmi sudah jarang ditemui. Entah disengaja atau sudah menjadi kebiasaan, tanpa sadar ketika berbicara dalam forum resmi tradisional penggunaan bahasa jawa itu tercampuri bahasa lain (misalnya :bahasa Indonesia).

Bukanlah hal yang perlu dimaklumi mengingat ini adalah indikasi mulai terkikisnya pemahaman orang jawa akan bahasa jawa. Orang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia karena lebih mudah. Sehingga tanpa terasa kosakata bahasa jawa satu persatu mulai terlupakan.

Seringnya orang jawa menggunakan bahasa Indonesia untuk kegiatan sehari-hari yang bukan acara resmi nasional menjadi sebab yang boleh dibilang paling berperan dalam mengikis pemahaman akan bahasa jawa. Bahkan tak jarang kita jumpai anak-anak mulai bayi-pun sudah diajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Orangtua begitu bangga ketika tampil di depan umum, bercakap-cakap dengan anaknya menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya anak tidak lagi mengenal kosakata jawa dan orangtuanya-pun mulai kehilangan kosakata jawa.

Padahal sesuai UUD bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi Indonesia yang penggunaan resminya sebagai bahasa kenegaraan, bahasa pengantar pendidikan dan bahasa komunikasi nasional. Sedangkan selebihnya dianjurkan untuk menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Semangat menggunakan bahasa jawa bagi orang jawa merupakan salah satu bentuk tanggungjawab dalam melestarikan budaya lokal dan bukan untuk mengikis rasa nasionalisme.  Sudah seharusnya sebagai orang jawa bangga menggunakan bahasa jawa dalam kehidupan sehari-hari. Tak perlu malu atau minder karena hal tersebut justru merupakan keunggulan tersendiri bagi orang jawa. Yang seharusnya malu dan minder adalah orang jawa yang tak bisa berbahasa jawa dengan baik dan benar.

Sebagai generasi muda kita wajib melestarikan bahasa jawa dengan menggunakannya sebagai bahasa keseharian kita. Memang bukan hal mudah, tetapi perlu kita lakukan agar bahasa jawa tak hilang oleh perubahan jaman.

<tulisan berikutnya insya Alloh “perlunya berbahasa jawa”>

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: