Beranda > Pengalaman > Memaafkan tanpa permintaan maaf

Memaafkan tanpa permintaan maaf

Meminta maaf bagi sebagian orang memang bukan sebuah perkara yang mudah. Mengakui kesalahan yang pernah dilakukan dan meminta keikhlasan kepada pihak yang kita salahi. Meski begitu ternyata ada hal yang lebih sulit dari meminta maaf yaitu memberi maaf.  Ketika ada orang yang menghadap kita, dengan mengakui segala kesalahan yang pernah dia lakukan terhadap kita, setelah apa yang dia lakukan yang boleh jadi telah membuat kita terluka, menjadikan citra kita buruk di depan manusia atau juga telah merugikan materi yang kita punya dan pada akhirnya kita harus memaafkannya.  Memaafkan bukan hanya di bibir saja, tetapi sampai di hati.

Bukan suatu hal yang mudah. Betapa tidak, kita harus melupakan segala kesedihan yang kita tanggung, sakit hati yang kita alami dan pengorbanan yang telah kita lakukan untuk tetap menjaga hati. Pada akhirnya kita menghapus apa yang telah terjadi antara kita dan dia. Sungguh memberi maaf tak lebih mudah daripada meminta maaf. Karenanya derajat orang yang memberi maaf lebih tinggi daripada orang yang meminta maaf.

Meminta maaf hanya terfokus pada bagaimana agar kesalahan kita di maafkan (diikhlaskan). Sementara memberi maaf mengandung konsekuensi kita harus melupakan semua yang pernah menimpa kita yang disebabkan oleh oranglain dan juga bagaimana agar hati tidak mendendam. Bagaimanapun usaha kita melupakan kesalahan oranglain pastilah ada di dalam hati rasa dendam meski hanya setitik. Tergantung pula sejauh mana akibat dari kesalahan orang lain kepada kita.

Lalu ada lagi hal yang lebih sulit daripada memaafkan orang lain yang jelas-jelas meminta maaf kepada kita. Yaitu memaafkan kesalahan orang lain yang tak pernah meminta maaf. Memaafkan orang yang meminta maaf bagaimanapun bisa dilakukan dengan baik karena dengan dia mengakui kesalahan kepada kita, berarti posisi kita lebih tinggi. Orang yang meminta maaf ibarat seseorang yang telah membuat tulisan yang salah, kemudian dia datang kepada kita untuk menghapusnya. Kita sebagai pemegang penghapus mempunyai kuasa untuk menghapus atau tidak. Kalau kita menghapusnya berarti orang tersebut tak punya kesalahan lagi, tapi kalau kita tak menghapusnya tulisan itu akan tetap salah dan jika dinilai akan mendapat nilai buruk. Jadi mudahnya, nilai baik atau buruk orang tersebut ada di tangan kita.

Nah beda jadinya jika yang bersalah kepada kita tidak mau meminta maaf. Kita akan selalu didera dilema untuk memaafkan atau tidak. Jika kita memaafkan, betapa mudahnya dia terbebas dari dosa. Sementara jika kita tidak memaafkannya maka justru menjadi beban bagi kita. Kita akan selalu menyimpan rasa dongkol di hati. Kita mau marah-pun dia juga tidak mau tahu. Bagaimanapun pada akhirnya hanya ada dua pilihan, memaafkan atau tidak. Dengan tidak memaafkan kita tidak rugi apapun, namun jika kita memaafkan maka yakinlah derajat kita jauh lebih tinggi dari orang yang bersalah kepada kita.

  1. Zizima
    19 Januari 2010 pukul 5:30 am

    memaafkan? susah buat di bilang, tapi lebiih susaaah lagi buat di jalankan.
    Kadang kala yang namanya penyakit lebih dominan n menguasai sang pemilik hati🙂

    • satufikr
      26 Januari 2010 pukul 7:44 am

      iya memang bisa dibilang penyakit ketika kita selalu tak bisa memaafkan, tapi kadang ya ada hal yang begitu sulit untuk bisa kita maafkan. .

  2. mio
    24 Januari 2010 pukul 11:50 pm

    memaafkan? kalau saya sih Insya Allah gampang2 aja, slama ini gitu he2, apalagi kalau org yg minta maaf itu menunjukkan wajah memelasnya, lha gak tegaan sy nih

    tp kalau kejadian yg membuat sy sakit ht tak bs sy lupakan walau sy sudah memaafkan, he22
    🙂

    harapan sy: smoga bisa menjadi lebih baik lah, kalau sbelumnya bisa memaafkan dengan mudah tp tak bisa melupakan peristiwanya, smoga nanti2 sy bisa memaafkan dan menghapus memori tidak menyenangkan tersebut

    mohon doanya ya

    • satufikr
      26 Januari 2010 pukul 7:51 am

      memaafkan harusnya dari hati (ikhlas), soalnya kalo cuma karena wajah yang memelas, bisa bisa menyesal telah memaafkan (memaafkan kok malah menyesal). Artinya kita belum sepenuhnya bisa mengikhlaskan semuanya.

      beda dengan mengampuni, memaafkan memang tidak mengharuskan kita bisa melupakan kejadian yang membuat kita sakit hati. tapi emang lebih baik kita bisa memaafkan sekaligus mengampuni. tetep berikhtiar dan selalu memohon petunjuk-Nya..

  3. mio
    29 Januari 2010 pukul 6:02 am

    he2 betul2, tp ya gimana ya, biasanya kalau udh tulus bgt sm seseorang tp trnyata org itu nusuk dr blkng, rsnya sakit bgt, walau udh memaafkan tp seperti paku yg habis melubangi sesuatu, lubang itu tak mungkin bisa sembuh secara langsung n instan🙂, memori itu akan terkenang selalu walau hati dah memaafkan, he2 mbulet…..

    seperti kt pepatah, maaf atau memaafkn adlh hal yg mudah n bs dilakukan kpn aja dimana saja oleh siapa sj, tp ht yg udh terlanjur terluka takkn bs smbuh dengan hitungan jari n dengan begitu sj, he22…

    yah, smoga lbh baik lah, biasanya ya sy pasrahkan aja sm Allah, smoga itu bs mnjadi pengurang dosa2 sy yg segunung lebih🙂

    • satufikr
      29 Januari 2010 pukul 7:16 am

      kayaknya pengalaman ya?.. saya juga beberapa kali mengalami hal seperti itu. merasa benar-benar tersakiti, dan sakitnya lahir batin.😀 Memang seiring waktu, hati lambat laun bisa ikhlas untuk memaafkan. Tapi jika teringat kembali memori itu yaa kadang rasa sakit (bermetamorfosis menjadi rasa marah) itu muncul lagi meski sesaat.

      Ada baiknya menghindari hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu/orang yang telah menyakiti kita dan hal yang bisa mengingatkan tentangnya.

      Terus positif thinking aja, bahwa takdir memang harus mengalami hal itu dan pasti ada hikmah di baliknya. Mosok sih Alloh tega membiarkan hamba-Nya dalam kesulitan..

      Dan pastinya HADAPI DENGAN SENYUMAN, karena SENYUM kita itu INDAH..yeaaah.🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: