Beranda > Motivasi > Mencurigai Diri Sendiri

Mencurigai Diri Sendiri

Sebagian besar sikap curiga merupakan suatu keburukan. Apalagi jika kecurigaan itu tanpa alasan-alasan dan bukti yang jelas. Sudah pasti kecurigaan itu akan mengarah kepada hal-hal yang negatif.  Untuk itu tidak semestinya bagi kita mudah mencurigai orang lain tanpa alasan yang kuat dan disertai bukti nyata. Namun sebaliknya ada juga sikap curiga yang membawa kepada kebaikan. Yaitu curiga terhadap diri sendiri.

Sikap curiga merupakan sikap mewaspadai segala perilaku oranglain atau sesuatu karena diduga [dikhawatirkan] akan membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. Sebagaimana sikap curiga pada umumnya, curiga terhadap diri sendiri mempunyai konsekuensi bahwa kita harus mewaspadai gerak-gerik diri kita [khususnya hati] dimana kita selalu khawatir bila diri kita akan melanggar aturan atau berbuat dosa. Kemudian ketika terdapat tanda-tanda yang mencurigakan maka secepat mungkin kita mengambil tindakan untuk meluruskannya.

Ada hal-hal yang bisa saja hinggap di hati kita yang jika dibiarkan maka itu akan membahayakan diri kita baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Hal-hal yang perlu dicurigai yang ada pada diri kita antara lain sikap munafik, sombong, hasud, iri, dengki, serakah dan penyakit hati lainnya. Hal-hal tersebut bila dibiarkan maka akan membuat hidup kita menjadi sempit dan susah, sementara di akhirat siap menanti balasan dari Alloh. Na’udzubillah min dzalik.

Ada sebuah kisah menarik dari Kholifah Umar bin Khottob ra mengenai sikap mencurigai diri sendiri. Suatu hari kholifah Umar bertanya kepada Abu Hudzaifah (  shahabat yang menjadi penjaga rahasia Rosululloh SAW. yang diberitahu oleh Rosululloh siapa saja orang-orang munafik di kalangan umat Islam ). Beliau bertanya apakah Abu Hudzaifah mengetahui bahwa nama beliau ( Umar ra -red ) di sebut oleh Rosul dalam daftar orang-orang munafik. Kemudian Abu Hudzaifah menjawab bahwa tidak ada, kemudian Abu Hudzaifah berketetapan tidak akan memberitahu lagi bila ada orang lain yang bertanya seperti itu. Kemudian para shahabat jika ingin mengetahui apakah seseorang itu munafik atau tidak, maka mereka melihat apakah ketika seseorang itu meninggal, Abu Hudzaifah ikut menyolatkan atau tidak.

Subhanalloh. Lihatlah sang kholifah Umar ra. Siapakah yang meragukan keimanan beliau, siapa pula yang meragukan keikhlasan beliau dalam memperjuangkan Islam. Toh beliau masih juga was-was terhadap sikap munafik yang dikhawatirkan akan menimpa hati beliau. Sungguh, bagi kita seharusnya bisa lebih waspada. Jangan-jangan selama ini sifat-sifat yang disebutkan diatas telah menghinggapi hati kita tanpa kita sadari. Yang setiap saat ketika kita lengah, siap menerkam hati kita dan keimanan kita.

Untuk itu kita harus wasapada ketika kita merasa iri terhadap kesuksesan orang lain. Jangan-jangan sifat iri dan dengki siap menerkam kita. Atau ketika merasa bahwa apa yang kita katakan selalu berbeda dengan kenyataan, ketika berjanji suka mengingkari atau ketika diberi amanah selalu tak dilaksanakan. Jangan-jangan kita terjangkit sifat munafik. Pun ketika kita merasa bangga dengan amalan kita, merasa lebih hebat dari orang lain dan suka meremehkan orang lain. Jangan-jangan sikap sombong begitu dekat dengan hati dan siap menggantikan warna hati.

Tak ada yang lebih mengetahui diri kita selain diri kita sendiri. Jangan pernah mempercayakan diri kita kepada diri kita walau sekejap-pun. Percayakan diri kita kepada Alloh, Sebaik-baik Penjaga. Dan selalu waspadai diri kita dan senantiasa memohon pertolongan Alloh. Ada sebuah doa yang diajarkan oleh Rasululloh SAW agar kita bisa total di dalam mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Alloh.

Allohumma rohmataka arju
Falaa takilni ilaa nafsi thorfata ‘aini
Washlihli sya”ni kullahu
Laa ilaha illa anta.

Ya Alloh kepada-Mu-lah aku berharap
Janganlah Engkau titipkan diriku padaku walau sekejap mata
Dan perbaguslah diriku seluruhnya
Tiada Ilah melainkan Engkau.

  1. wul
    9 Februari 2010 pukul 6:14 am

    assalaamu’alaykum akh satufikr

    jazakallah udah berkunjung ke blog ana🙂

    waspadai juga apakah ibadah kita diterima Allah atau tidak sehingga dalam beribadah kita sungguh-sungguh, berserah diri dan penuh keikhlasan

  2. satufikr
    9 Februari 2010 pukul 6:45 am

    wa’alaikumsalam ukhti
    sama2.syukron kunjungan baliknya.
    yup..tetep jaga keikhlasan.karena keikhlasan bisa hilang tanpa pernah kita sadari. dan akhirnya hilangnya itu membawa serta nilai amalan kita.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: