Beranda > Pengalaman > Satu Tahun Sudah

Satu Tahun Sudah

Tanggal ini setahun yang lalu, tepat 365 hari. Bernostalgia sejenak mengenang masa-masa peralihan yang begitu mengharukan.

1 April 2009. Di pagi yang cerah itu, saat jam menunjukkan jam 06.30. Tak seperti biasanya aku hadir di tempat itu lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Waktu berjalan pelan-pelan seakan memberi kesempatan kepadaku untuk menikmatinya.

Satu persatu anak-anak berdatangan. Salam takdzim anak-anak sambil mencium tangan orangtuanya mengingatkanku akan masa kanakku. Kembali menembus ke masa seragam merah putihku. Seulas senyum di sudut mulutku, betapa indahnya saat itu, betapa manisnya kenangan itu.Anak-anak berlarian menuju ruang belajarnya, merapikan sepatu dan tasnya. Sungguh cerianya mereka, haru menyusup hati saat mereka menjabat tanganku. Senyumku pun mengiringi langkah-langkah kecil mereka. Senyum yang dipaksakan, senyum yang sebenarnya tenggelam oleh sesak. Jika ada senyum yang kupaksakan dalam hidupku, bisa jadi itulah yang kuingat sampai saat ini. Sesak memenuhi dadaku. Tak pernah terbayangkan bahwa hari itu adalah hari terakhir tugasku sebagai seorang guru.

Waktu pun berjalan menuju detik detik perpisahan. Saat bel berbunyi memecah tawa ria anak-anak yang bermain. Tanda bahwa kegiatan belajar akan segera dimulai. Tak seperti biasanya pula, hari itu diadakan upacara perpisahan. Deg… Rasa sesak itu memenuhi dadaku, mulut seakan tercekat untuk mengucapkan kata perpisahan. Sungguh hal yang paling tidak nyaman bagiku adalah ketika harus mengucap kata berpisah. Tidak, kata batinku. Ini bukan perpisahan abadi, masih ada waktu jika diijinkan-Nya untuk bertemu mereka. Namun tetap saja kata-kata itu tak keluar dengan lancar. Tercekat sesak, tertahan oleh air mata yang bila tak kutahan sudah keluar. Dengan terbata-bata akhirnya kata perpisahan terucap dengan sukses, sementara isak tangis sebagian anak-anak pecah, mengubah suasana menjadi haru biru. Namun apalah mau dikata, semua harus berjalan, semua sudah ditentukan dan akupun harus menjalani takdirku.Setelah perpisahan yang cukup dramatis itu, akupun melaju menuju pendopo Sleman. Tempat bermulanya suasana baru yang akan kujalani. Pertemuan formal dengan pejabat-pejabat Kabupaten Sleman dalam rangka menerima surat “pengekangan”. Diantara 327 senyum peserta upacara, aku masih merasakan sisa-sisa keharuan. Hanya sesekali aku tersenyum, mencoba tegar menghadapi suasana baru yang akan kulalui ke depan. Sebagian rasa masih tertinggal di sekolah.

Beberapa jam berlangsung akhirnya tibalah saat penentuan takdirku yang lain. SK dan SPMT yang kuterima memutuskan bahwa aku harus terlempar jauh dari “peradaban PEMDA”. Aku ditugaskan ke daerah gunung nan sepi, yang sebelumnya tak sekalipun pernah kuinjakkan kaki di sana. Sebuah kantor yang sepi, benar-benar sepi, hanya sesekali suara deru kendaraan memecah kesunyian. Selebihnya merupakan tempat yang pas dan nyaman untuk “bersemedi”.Dengan penuh pasrah akupun melaju menuju BLK Sleman yang bertempat di Bunder, Purwobinangun, Pakem. Bertemu Ka.Subag TU untuk melaporkan diri. Sebenarnya harus lapor kepada Pimpinan BLK, namun berhubung beliau tugas keluar maka cukuplah Ka.Subag TU yang menerimaku. Sedangkan aku baru bertemu dengan Pimpinan BLK sehari setelahnya.

Hari itu, berbaju putih celana hitam berdasi hitam, persis Salesman produk abal-abal, aku sudah memulai hari pertama kerjaku di BLK Sleman. Sungguh, hari itu tak mudah aku menjalaninya. Entah kenapa bayang-bayang anak-anak terlintas di benakku. Berpikir bagaimana mereka menjalani hari ini, tanpa aku. Namun pastilah semua akan baik-baik saja, pikirku, sampai ada kabar dari sekolah bahwa anak-anak masih ada yang menangis karena perpisahan pagi tadi. Ah, diri ini merasa sedih, tapi bahagia ternyata masih ada yang membekas di hati mereka tentangku. Sehingga kepergianku masih ada yang menangisi.

Waktu berjalan amat pelan, seakan menguji seberapa kuatkah aku bertahan. Hari itu aku kerja fullday sampai berakhirnya jam kantor 13.30. Sepulangnya dari kantor, entah kenapa aku bertekad untuk kembali menengok sekolah yang tadi pagi aku tinggalkan. Ada sebuah beban yang harus kulepaskan….

Kini setahun berlalu, banyak hal yang telah kujalani, banyak hal yang aku temui yang membuatku semakin yakin bahwa hidup ini memang berwarna dan penuh lika-liku. Ada tawa, ada tangis, ada canda, ada sedih kesemuanya mengajarkan bahwa manusia itu lemah dan butuh manusia lain untuk membuatnya kuat. Salah satu hal yang membekas di hati selama setahun ini adalah Diklat PRAJAB beberapa waktu yang lalu..hmmmm ada banyak kata untuk mengungkapkannya, namun biarlah kenangan itu tersimpan di kalbu sebagai tanda dalam sebuah perjalanan.

  1. Bu Pala
    10 April 2010 pukul 12:47 am

    ingin kukatakan arti cinta kepadamu Dinda eh dimas !
    ketika cinta menyapa, tak selamanya cinta itu masalah nafsu ! Alhamdulillah, Alloh lah hadirkan cinta itu ….
    Jazakallah dah memberi warna berbeda dengan kehadiran Antum di Sekolah Kehidupan Husnayain.
    Sebagaimana janji awal, Husnayain adalah sekolah untuk kita semua, so … kembali jika ingin belajar kembali dan membiarkan cinta itu terus mengembang !

    • satufikr
      12 April 2010 pukul 6:27 am

      setiap masa dan kejadian akan terekam dalam memori, dan suatu saat memori itu akan memanggil kembali. Walau tak mesti sama, namun akan ada hal yang tak pernah beda. Jazakumulloh untuk teman-teman di Husnayain..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: