Beranda > Pengalaman > Nana Sehat Selalu

Nana Sehat Selalu

Sore itu aku dan ibuku menjenguk tetangga yang sedang sakit. Tetangga yang masuk rumah sakit malam sebelumnya karena diduga tipes (typhus). Padahal malam ketika ia datang ke rumah sakit bukan bertujuan untuk opname tetapi hanya untuk cek kesehatan sahaja. Namun ternyata dokter mengharuskan dia menginap (opname). Entahlah, apakah suatu cara bagi rumah sakit yang terkenal dengan pelayanannya yang rumit tapi sama sekali tidak berkualitas itu untuk mendapatkan pasiennya (uangnya) atau memang karena jiwa kepedulian terhadap yang sakit. Yang pasti rencana semula yang hanya ingin cek kesehatan akhirnya harus opname.

Tak ada yang istimewa dengan prosesi menjenguk tetanggaku. Setelah ketemu dan bersalaman diiringi doa dalam hati untuk kesembuhannya lalu dilanjutkan acara tanya jawab interogasi hal ikhwal sampai diopname akhirnya menunggu sebentar di luar untuk memberi kesempatan para penjenguk yang lain. Ruangan berukuran tak lebih dari 20 meter persegi dihuni oleh empat pasien serta ditunggui kerabatnya memang cukup sempit dan sesak. Begitulah keadaan hampir di setiap ruangan di rumah sakit bertaraf daerah ini. Biaya mahal, pelayanan se”mau”nya, saran yang minimalis dan prosedur yang berbelit-belit tidak menunjukkan sebagai rumah sakit yang memiliki pelayanan prima.

Seperti dikatakan bahwa tak ada yang istimewa dari acara ini. Namun ada hal yang menggelitik untuk di dengar ketika aku menunggu di luar ruang opname. Suara yang tak bisa dikatakan pelan itu telak mengusik telingaku untuk memfokuskan pada topik yang dibicarakan. Ceritanya di ruang sebelah tepatnya yang berhadapan dengan ruang dimana tetanggaku di rawat juga ada pasien yang dijenguk. Entah sakit apa aku juga tidak begitu memperhatikan. Dari barisan kata-kata sang penjenguk itu bisa dibilang ada sebuah wejangan yang patut untuk direnungkan meskipun dalam hati agak mengganjal juga.

Agar demi memudahkan pemahaman maka langsung saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena bahasa aslinya adalah bahasa Jawa. tentu dengan pengungkapan yang bisa jadi ada penambahan demi kemudahan.

” Kita harus sadar …!” sang penjenguk itu memulai wejangannya.
” Kita harus menyadari bahwa hidup itu tidak lama. Apa yang terjadi pada orang lain suatu saat akan terjadi pada kita. Boleh jadi saat ini kita menjenguk orang sakit, tapi lain kali kita yang di jenguk. Bisa saja saat ini kita menggali tempat pemakaman untuk orang lain, tapi suatu saat akan ada oranglain yang menggali untuk kita. Suatu saat kita pernah berziarah ke makam, suatu saat yang berbeda orang lain akan menziarahi makam kita..” sang penjenguk berhenti sebentar mengambil napas. Sementara aku menjadi tersentak.

” Untuk itu…” sang penjenguk melanjutkan. ” kita harus bisa hidup dengan orang lain. Hidup berdampingan secara damai. Apakah kita akan menggali kubur sendiri atau apakah kita bisa memikul keranda sendiri. Bolehlah dikata kita bisa membayar orang untuk semua itu. Tapi jika tiba saatnya dan ternyata tak orang yang bisa dibayar mau diapakan kita. ”

Kata-katanya meluncur tanpa hambatan. Membuat kesimpulan yang masih menggantung.Berpikir mungkin saja ini adalah cara Alloh untuk memberi pengajaran pada hamba-Nya. Bahwa kita tak jarang menemukan nasehat-nasehat dari apa yang tidak kita sangka, bukan dari suatu majelis atau pertemuan ilmu, justru dari hal keseharian dan hal yang sepele.Hanya saja agak mengganjal ketika itu disampaikan di hadapan orang yang sedang sakit dan butuh hiburan dan penyemangat.Hmmm…

  1. 7 Juni 2010 pukul 4:01 pm

    1. berprasangka yang baik sajalah dengan rumah sakit itu, semoga memang karena harus opname, toh itu juga sebuah pilihan kan?
    2. nasihat yang bagus untuk kita semua, kadang perlu disampaikan secara “to the point” biar berdampak ya..

    • satufikr
      10 Juni 2010 pukul 3:45 am

      berprasangka baik memang baik.. hanya saja dalam bercerita kan butuh suatu hal yang beda.. hehe..

  2. 29 Juni 2010 pukul 3:22 pm

    selalu ada sensasi tersendiri saat berkunjung kesana, padahal dari kecil sudah akrab dengan tempat yang satu itu, rumah sakit.

    yah, ambil hikmahnya(atau ibroh? apapun) aja dari wejangan beliau. semoga juga, dalam kasus ini, “metode” beliau itu menjadi metode yg tepat untuk si sakit. hmm… semoga aja… ^^

  3. satufikr
    8 Juli 2010 pukul 6:20 am

    insya Alloh semua ada hikmahnya. hikmah yang tersebar kan milik kita, dimanapun berada maka boleh ambil. tak perlu sungkan..tapi agak geli juga demi memahami situasi si sakit.. ^^

  4. 27 Agustus 2014 pukul 3:51 pm

    Mungkin orang tersebut semasa sehatnya g mau bergaul dengan tetangga

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: