Beranda > Motivasi > Berani Menulis

Berani Menulis

Sebuah motivasi bisa kita temukan bahkan pada hal yang kelihatannya sepele. Baru saja kemarin saya bertemu temanku dengan agenda pentingnya mengembalikan buku Negara Kelima. Obrolan ringan pertemuan yang diawali dengan mengutarakan persamaan antara Negara Kelima dan Rahasia Meede karangan ES.Ito.  Dua buku yang secara beruntun dipinjamkan kepadaku. Memang temanku yang satu ini punya koleksi buku yang berbeda dengan yang kupunya. Secara memang latar belakang kami yang berbeda. Tapi akhir-akhir ini aku menjadi tertarik juga untuk membaca buku-buku dengan tema dan genre yang berbeda dengan yang selama ini aku baca.

Kembali ke motivasi yang saya sebutkan di atas yaitu mengenai keberanian untuk menulis. Kebetulan saat itu temanku ini menyodorkan sebuah tulisan ringan dari seorang mahasiswa. Di bagian akhir ada kata menarik yang menggelitik dari Pram ( Pramoedya Ananta Toer). Orang boleh pintar setinggi langit, tapi jika ia tidak menulis dia akan hilang dari sejarah dan masyarakat. Kurang lebih isinya seperti itu.

Ah benar pula kata Pram. Bagaimanapun pintarnya kita tetapi ketika kita tidak menulis maka suatu saat di masa depan kita akan hilang dari sejarah, orang tak lagi mengenal kita. Dan yang lebih sayang lagi, ilmu kita tidak akan berguna bagi lebih banyak orang. Bukankah ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu tabungan amal yang tak terputus meski orang yang menulis itu telah meninggal dunia. Sebuah investasi masa depan yang menjanjikan.

Tulislah apa yang akan kau tulis meski itu mungkin akan menjadi sampah, daripada tidak ditulis dan hanya menjadi sampah di pikiran. Sebuah komentar dari temanku ketika aku membaca dengan keras perkataan Pram di atas. Sebuah komentar yang juga menggelitik itu dia ambil dari perkataan yang pernah dilontarkan oleh Prof. Moebyarto. Betapa kadang kita merasa ide menulis itu banyak dan berjejal di otak kita. Namun tak satupun yang keluar menjadi sebuah tulisan. Pada umumnya kita merasa tulisan itu tak bermutu dan hanya menjadi sampah. Padahal itu hanya ketakutan dan rasa ketidakpercayaan diri saja. Tak ada alasan untuk takut menulis karena jika ide tidak dikeluarkan hanya akan menjadi beban pikiran kita.

Benarlah, tulislah apa saja yang terlintas di pikiran jika itu sebuah ilmu. Biarkan waktu yang akan menilai apakah akan menjadi sampah atau menjadi mutiara walau hanya di sudut buku. Yang pasti ketika kita menulis sebuah kebaikan maka kebaikan akan mengikutinya, insya Alloh. Tak ada ilmu yang sia-sia, yang ada hanyalah kemauan untuk berbagi atau tidak.

  1. 13 Juli 2010 pukul 5:57 am

    aku menulis………

    • satufikr
      17 Juli 2010 pukul 12:48 am

      iya anda sudah membuktikannya..:D

  2. 14 Juli 2010 pukul 1:14 am

    nice posting🙂

    • satufikr
      17 Juli 2010 pukul 12:49 am

      matur nuwun apresiasinya..🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: