Beranda > Umum > Sisa Piala Dunia 2010

Sisa Piala Dunia 2010

Piala Dunia memang sudah berakhir secara resmi tanggal 11 Juli 2010. Sebuah hajatan besar dunia internasional setiap empat tahun sekali di bidang olahraga sepak bola. Sebuah even yang menjadi ajang adu ketangguhan, kecerdasan dan taktik dalam memainkan si kulit bundar bagi seluruh negara di dunia, meskipun pada kenyataannya hanya diikuti oleh 32 negara, yang mayoritas berasal dari benua eropa dan amerika.Sekali lagi eropa dan amerika menjadi nama yang selalu diunggulkan hampir di semua bidang kehidupan. Sedangkan benua lainnya Asia, Afrika dan Australia seolah hanya menjadi penggembira saja, pelengkap penderita.

Hajatan kali ini menjadi semacam hal yang fenomenal dengan keluarnya Spanyol (La Furia Roja) sebagai juaranya (campeone). Kemenangan tipis atas Belanda 1-0 mengantarkan Spanyol menjadi juara dunia untuk yang pertama kalinya dalam sejarah negara itu mengikuti Piala Dunia. Bahkan prestasi terbaik sebelumnya adalah tidak pernah sampai babak perempat final. Namun di tahun 2010 ini, impian Spanyol untuk menjadi juara dunia terwujud melalui tendangan Andrea Iniesta di menit 116 yang menjadi penentu kemenangan atas Belanda. Hasil ini sekaligus mematahkan mitos bahwa ‘tak akan menjadi juara dunia,bagi tim yang pernah kalah di babak sebelumnya’. Dengan demikian Spanyol di tahun 2010 ini berhasil menyandingkan Piala Eropa dan Piala Dunia sekaligus. Sebuah hasil yang fantastis tentunya terlepas dari berbagai kontroversi yang muncul mengenai kemenangan Spanyol.

Piala Dunia. Meskipun hanya diikuti oleh 32 negara namun kemeriahannya hampir menjalar ke seluruh dunia. Mampu mengalahkan isu-isu penting di berbagai negeri, menenggelamkan berita pembantaian Israel atas warga Gaza, menguapkan penyerangan kapal Mavi Marmara oleh Zionis Israel dan berbagai peristiwa penting lainnya.

Piala Dunia telah berhasil memunculkan isu baru dunia peramalan. Bagaimana Paul si Gurita menjadi begitu terkenal dengan keakuratan ramalannya mengenai hasil pertandingan di beberapa babak dan yang paling puncak adalah ketepatan meramalkan kemenangan Spanyol atas Belanda. Sungguh ini menjadi ujian bagi kita. Percayakah dengan ramalan tersebut padahal hasilnya betul dan nyata terjadi? Ataukah kita menganggap itu hanya kebetulan belaka?Percayakah kita bahwa Paul si Gurita punya kekuatan magis? Semua itu menjadi ujian bagi kita. Percaya dengan semua itu akan menggiring kita menuju kesyirikan, menduakan Tuhan.

Imbas Piala Dunia pun dirasakan oleh negeri ini. Secara khusus saya berbicara di masyarakat di mana saya tinggal. Bagaimana tidak demam Piala Dunia telah membuat pemuda desa membeli televisi demi menonton pertandingan bersama-sama. Pun Piala Dunia menjadi ajang taruhan di antara mereka. Walau nominalnya cukup kecil 10.000 – 25.000 rupiah namun bagaimanapun itu merupakan bentuk perjudian kecil-kecilan dan terselubung karena hanya dilakukan secara berpasangan. Indikasi bahwa ternyata masyarakat kita masih doyan dengan hal-hal berbau perjudian meski dengan dalih hanya untuk hiburan dan nominal juga kecil. Entah mengapa setiap even adu kemenangan menjadi objek empuk untuk bahan perjudian. Mulai dari sepak bola daerah, pemilihan dukuh, lurah, bupati bahkan pemilihan presiden pun menjadi bahan taruhan. Semakin tinggi derajat/jabatan objek perjudian semakin tinggi nilai nominalnya.Dengan itu semua penegak hukum seakan mandul untuk bisa membersihkan penyakit masyarakat tersebut.

Imbas Piala dunia-pun merambah perpolitikan di negeri ini. Berbagai kasus besar dan penting negeri ini lenyap begitu saja. Bahkan di saat-saat final piala dunia dilaporkan pejabat dan anggota DPR mengadakan acara nonton bareng. Memang tak ada salahnya, toh mereka juga manusia biasa yang punya keinginan untuk menikmati hiburan. Yang menjadi preseden buruk adalah akibat nonton acara bersama menyebabkan mereka mangkir dari tugas kedinasan dikarenakan mengantuk sehabis bergadang. Masyarakat sekali lagi disuguhi oleh tingkah polah memalukan wakil mereka di Dewan. Bukankah mereka dibayar untuk bekerja buat rakyat, bukan untuk menonton Piala dunia dan mangkir dari kerja. Naifnya lagi ketua DPR-pun memakluminya. Seakan mangkir dari tugas karena bukan hal kedinasan merupakan sesuatu yang dibenarkan.

Belum lagi dilaporkan bahwa ada dua kelompok pemuda di Sulawesi yang terlibat tawuran karena perbedaan tim yang didukung. Satu menudkung Belanda dan lainnya mendukung Spanyol. Ketidak mampuan menerima kekalahan dilaporkan menjadi pemicu tawuran ini. Mari kita lihat, betapa rapuhnya persatuan kita. Untuk hal yang tidak prisipil, untuk sebuah even tak penting bagi bangsa ini menyebabkan anak bangsa terlibat bentrok dan perusakan. Bagaimana bangsa ini akan maju bila di dalamnya saja pertentangan kian marak bahkan beberapa dipicu hal sepele seperti kekalahan tim sepakbola daerahnya, perebutan lahan parkir, kekalahan jagonya di pilkada dan lain sebagainya. Bangsa ini begitu banyak mempertontonkan aksi brutal daripada prestasi. Betapa sering peristiwa kerusuhan terjadi sementara jarang sekali berita tentang kemenangan Indonesia dalam pertandingan-pertandingan regional dan internasional.

Bangsa ini butuh berbenah. Jika bangsa ini kuat bukan hal yang mustahil suatu saat trophy Piala Dunia akan diangkat oleh putra-putra terbaik bangsa ini, lagu Indonesia Raya diperdengarkan di even internasional sebesar Piala Dunia. Bukan hal yang mustahil jika kita bisa mengubah kepribadian bangsa ini.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: