Beranda > Pengalaman > Ngungsi (bag.1)

Ngungsi (bag.1)

Sungguh manusia tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Tak sedetikpun. Seperti halnya pengalaman ngungsi yang aku [dan banyak warga lereng Merapi] alami. Merupakan sebuah sejarah karena ternyata dari berita orang yang sudah sepuh [dan masih hidup] baru kali ini letusan Merapi begitu besar dan kali ini pula mereka terpaksa harus ngungsi. Marilah kita simak penuturan pelaku ngungsi [penulis-red] yang dihimpun oleh penulis langsung.

Rabu 3 November 2010.
Merapi mulai mengeluarkan suara gemuruh sepanjang hari. Awalnya sempat khawatir juga karena hampir belum pernah mendengar merapi bergemuruh sepanjang hari, siang dan malam. Masih selalu berdoa agar diberi keselamatan.

Kamis 4 November 2010
Merapi masih mengeluarkan suara gemuruh. Bahkan semakin keras. Masih selalu berdoa diberi keselamatan.

Pukul 18.30 wib terlihat hujan abu di desaku. Ba’da isya’ abu semakin tebal sementara suara gemuruh tak berkurang. Jendela-jendela kaca bergetar.
Pukul 22.00 wib terjadi gempa yang mengakibatkan aku dan keluargaku keluar rumah. Harap-harap cemas duduk di teras rumah dengan perasaan was-was. Menahan kantuk yang masih menyerang demi kewaspadaan sambil mempersiapkan motor.

Jumat 5 November 2010
Pukul 00.00 wib suara gemuruh makin menjadi, hujan abu masih terjadi.
Pukul 00.15 wib terjadi gempa diikuti hujan abu yang lebat dan suara kerikil jatuh di genteng. Suasana panik, motor dipersiapkan untuk meluncur dan mendadak listrik padam. Suasana semakin mencekam. Dengan membawa perbekalan seadanya, rumah dikunci seperlunya kami sekeluarga langsung meluncur ke daerah selatan tepatnya arah kecamatan Tempel. Sepanjang perjalanan banyak orang sudah mulai berjalan menuju ke arah selatan. Ada tangis terdengar diantara rombongan pengungsi. Setiap keluarga memikirkan keluarga masing-masing.
Pukul 01.00 wib sampai di balai desa Margorejo. Sudah banyak kerumunan orang disana. Balai desa memang belum disiapkan untuk tempat pengungsian. Warga berteduh diantara emperan dan ruang balai desa. Hujan abu semakin deras. Suasana mencekam tak ada penerangan, listrik padam. Hanya bisa menunggu hingga fajar tiba. Suara gemuruh masih juga terdengar sampai mendekati fajar.
Pukul 04.00 wib kondisi mulai mereda. Kami pulang ke rumah masing-masing. Pasrah apapun yang terjadi nanti. Sepanjang perjalanan abu tebal menjadi alas ban sepeda kami. Pohon-pohon salak merebah menutupi gang-gang sempit, rumpun bambu patah dan ada pula yang ambruk. Benar-benar suasana berbeda dari semalam. Hanya bisa beristighfar.
Pukul 04.10 wib sampai di desa. Benar-benar berubah, wajah yang dulu elok kini berantakan. Jalan gang menuju rumahku tertutup pohon salak yang rebah. Tak bisa langsung menembus. Sementara aku mampir di masjid sholat subuh. Terasa sesak dada ini, teringat semua dosa dan kesalahan. Mungkin karena itu bencana ini terjadi. Habis subuh siap bekerja memotong dahan-dahan salak yang rebah untuk membuat jalan setapak.
Pukul 05.30 wib sampai di rumah. Alhamdulillah rumah masih berdiri tegak sebagaimana rumah-rumah lain di desaku. Hanya pohon salak yang roboh dan tebalnya abu mengubah warna desaku. Tak bisa berlama-lama di rumah. Merapi membumbungkan awan tebalnya ke atas. Bergulung-gulung. Hujan abu masih turun. Hanya sempat membersihkan diri dan mempersiapkan beberapa keperluan untuk mengungsi. Sudah dimantapkan bahwa kami harus mengungsi, meskipun ada beberapa orang yang bertahan. Tapi bagi kami menyelamatkan diri lebih utama. [bersambung]

  1. 29 November 2010 pukul 1:26 am

    weiiiiiiiiii ganti suasana yach…seingat saya terakhir mampir gak kayak gini dech =)
    NICE !!!

    oya ada postingan baru..silahkan mampir:

    http://syamsa.wordpress.com/risas-collections/

    =)

  2. satufikr
    30 November 2010 pukul 12:32 am

    ya begitulah.daripada akrab dengan kebosanan, kuganti aja suasananya..terimakasih kunjungannya.:)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: