Beranda > Opi Niku > AHMADIYAH, MINORITAS BERMASALAH

AHMADIYAH, MINORITAS BERMASALAH

Keberadaan Ahmadiyah di Indonesia akhir-akhir ini kembali mendapat angin segar setelah beberapa kasus kekerasan yang menimpa Jemaat Ahmadiyah. Dengan memposisikan sebagai kelompok yang teraniaya mereka berusaha mengukuhkan keberadaannya dengan mengambil simpati dari masyarakat. Memang dalam masyarakat sendiri masih terdapat pro dan kontra mengenai aktifitas Jemaat Ahmadiyah ini. Yang pro terhadap Ahmadiyah berargumen bahwa setiap orang bebas untuk melaksanakan agamanya dan sesuai dengan HAM. Sementara yang kontra menganggap bahwa Ahmadiyah (yang mengaku bagian dari Islam) merupakan sebuah aliran yang melenceng / sesat yang keberadaan sangat membahayakan kemurnian akidah Islam yang sebenarnya.

Permasalahan ini sebenarnya mempunyai titik ukur yang jelas. Masyarakat hanya meminta Ahmadiyah memproklamirkan dirinya menjadi agama sendiri dan melepaskan pengakuannya bahwa mereka merupakan salah satu bagian dari agama Islam. Jika Ahmadiyah menjadi agama sendiri maka berlaku ketentuan hukum sebagaimana pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Jika benar demikian maka sebagai warga Negara kita wajib menghormati keberadaan mereka.

BAB XI
AGAMA
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Yang dijamin kemerdekaannya adalah untuk memeluk agama masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Selama ini Jemaat Ahmadiyah mengaku beragam islam, tetapi mereka tidak beribadat sesuai tuntunan islam. Hal pokok yang menjadi dasar aqidah sudah berbeda. Jemaat Ahmadiyah mengakui bahwa ada Nabi setelah Rasululloh SAW  yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Sementara dalam aqidah Islam bahwa tidak ada Nabi setelah nabi Muhammad SAW. Dengan demikian Jemaat Ahmadiyah tidak memenuhi ketentuan sebagai penduduk yang dijamin kemerdekaannya dalam beragama dan beribadat.

Sementara itu karena Ahmadiyah tidak mau melepaskan dirinya dari pengakuan bahwa mereka merupakan bagian  islam (padahal jelas-jelas bertentangan dengan islam) maka hal ini menjadi semacam penistaan terhadap ajaran sebuah agama (Islam-red). Dan dalam UU penistaan agama sudah diatur bagaimana hukuman bagi orang-orang yang melecehkan suatu agama.

Kemudian apabila ternyata ada sebagian masyarakat yang bertindak sendiri (pemerintah suka menyebutnya anarkis) maka dicap sebagai pelanggar kebebasan, berbuat anarkis dan tidak toleran terhadap pemeluk agama lain. Padahal masyarakat juga tidak akan bertindak berlebihan jika saja tidak dipicu. Misalnya saja ibadat Ahmadiyah yang jelas-jelas meresahkan masyarakat kemudian dari pihak berwenang tidak mengambil tindakan yang tegas. Sementara kegiatan tersebut semakin meresahkan. Maka mau-tak-mau masyarakat bertindak sendiri dengan tujuan membela kemurnian agamanya dan menyelamatkan masyarakat dari ajaran sesat.

Akan tetapi anehnya, keadaan ambigu (plin-plan/tidak jelas) Ahmadiyah sengaja digunakan untuk merebut simpati masyarakat. Mereka menggambarkan bahwa diri mereka adalah kelompok teraniaya yang dibatasi kebebasan beribadatnya. Dan keadaan ini tentu saja akan membuat masyarakat merasa kasihan dan lambat laun akan mengapresiasi keberadaan Ahmadiyah. Bukankah bangsa kita adalah bangsa yang mudah tersentuh? Selalu membela yang lemah dan teraniaya entah itu benar atau salah. Dengan semakin besarnya simpati masyarakat diharapkan keberadaan mereka akan didukung.

Masalah ini sampai kapanpun tidak akan pernah selesai jika tidak diambil tindakan tegas dan ada itikad dari Ahmadiyah untuk ikut menciptakan perdamaian. Solusinya yaitu:

  1. Jika Ahmadiyah mengaku bagian dari islam maka harus kembali ke aqidah islam yang benar.
  2. Jika mereka masih bersikukuh dengan keyakinannya maka silakan memproklamirkan sebagai agama sendiri. Berlepas dari pengakuan bahwa Ahmadiyah berasal dari Islam.

Kita lihat saja bagaimanakah kelanjutan drama Ahmadiyah ini.

  1. suciptoardi
    9 Februari 2011 pukul 3:25 am

    Sebaiknya Ahmadiyah memilih option nomor 2. seperti di negara asalnya: Pakistan…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: