Beranda > Motivasi > Mencintai dan Membenci

Mencintai dan Membenci

Mencintai dan Membenci

Cintailah Kekasihmu Sekedarnya Saja, Siapa Tahu Nanti Akan Jadi Musuhmu. Dan Bencilah Musuhmu Sekedarnya Saja, Siapa Tahu Nanti Akan Jadi Kekasihmu. (Ali Bin Abi Thalib)

Mencintai dan membenci merupakan fitrah manusia. Adakalanya kita begitu mencintai sesuatu. Seakan kita ingin selalu bersamanya, tidak ingin kehilangannya. Di saat lain adakalanya pula kita membenci sesuatu. Saking bencinya kita jadi tak ingin bertemu, bahkan mendengar namanya disebut saja sudah bikin panas kuping.

Tapi bagaimanapun kita harus bisa bersikap adil dan proporsional. Bagaimana bersikap adil dan proporsional mengenai hal ini? Mencintai dan membenci memang merupakan hal yang berkaitan dengan perasaan. Banyak orang bilang bahwa ketika dia mencintai sesuatu dia tidak tahu alasannya. Pokoknya cinta aja. Begitu pula dengan membenci. Banyak orang tidak tahu mengapa jadi benci. Pokoknya benci aja.

Nah salah satu cara agar kita mampu bersikap adil dan proporsional adalah ALASAN. Yup kita perlu membuat alasan kenapa kita mencintai dan membenci sesuatu. Alasan akan membuat sesuatu semakin kuat kokoh berdiri atau membuat kita dengan mudah mengubah haluan perasaan. Jangan biarkan kita cinta buta atau benci tuli.

Kita perlu tahu alasan mengapa kita cinta sesuatu/seseorang sehingga kita akan senantiasa mencintainya tatkala hal yang menjadi alasan itu masih melekat padanya. Sehingga cinta itupun makin kuat. Namun ketika hal yang menjadi alasan itu hilang, maka rasa cinta kita-pun tidak dipersalahkan jika ikut hilang. Contoh, kita mencintai seseorang karena sikap rendah hatinya, sikap santunnya. Selama dia menjaga sikapnya itu maka kita pun pantas menjaga cinta kita. Tetapi jika dia berubah menjadi sombong, angkuh dan congkak maka tak ada alasan kita mencintainya lagi.

Begitupun dengan benci. Kita harus punya alasan untuk membenci sehingga benci kita tidak sembarangan. Ketika suatu saat alasan untuk benci menjadi tiada maka benci itupun harus tiada pula. Semisal, kita membenci orang karena ketidakjujurannya atau tingkah usilnya. Ketika orang tersebut berubah menjadi jujur dan baik hati maka tak alasan untuk membencinya.

Buatlah alasan yang bersifat jangka panjang. Jangan membuat alasan yang akan lekang dimakan waktu. Jangan mencintai karena rupa saja. Karena rupa akan berubah seiring bertambahnya usia. Atau jangan membenci karena kekurangan seseorang, boleh jadi suatu saat ia akan melebihi kita.

Ingatlah, cintailah sekedarnya dan bencilah sekedarnya. Cinta yang tak boleh pudar hanyalah cinta yang karena Alloh, pun dengan benci harus benci karena Alloh.

  1. 16 April 2011 pukul 12:31 pm

    🙂 … sip..sip!! betul banget, benci dan cinta jangan sampe kebawa nafsu…
    take action!!!

  2. 24 April 2011 pukul 4:52 pm

    mantab gan hee

  3. ainun waznin
    15 Mei 2011 pukul 2:57 am

    bagaimana jika kita dibuang ? apa ya akan mengemis cinta ? asal kita gak mutus silaturahim ya ! klo gak da perlu ya gak bicara kan lebih baik ! diam itu emas katanya !

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: