Beranda > Umum > Malasnya Minta Ampun

Malasnya Minta Ampun

“Dasar Pemalas !!!! ” teriaknya kepadaku.
“Ah kayak kau enggak malas pula !!!” kubalas teriakan juga.
Malas sekali menanggapi kata-katanya yang hampir tiap hari disuapkannya padaku. Kadang kesal juga mendengar ocehannya yang tak kunjung berganti kata. Tapi bagaimana lagi dengannya aku menjadi terkontrol meski tak jarang sih aku sesekali membohonginya..xixixixi. “Rasain Lu….” umpatku dalam hati. Tapi seakan tanpa diberitau selalu saja ia tahu. Ah menyebalkan, apa dia punya intel dimana-mana..

Kalau sudah begitu tak ada cara lain. Untuk membungkam suaranya cuma satu cara. Melakukan kebalikan dari perkataannya.. Memang dia itu agak cerewet kalau menyangkut hal-hal yang gak baik. “Ah sok baik Lu…” ejekku jika ia terlalu banyak suara. Dan seperti biasanya ia menanggapi dengan senyum. Hah tanggapan yang lebih terkesan mencibirku. “Oke oke aku tuh emang malas, malasnya minta ampuuuun…so what gitu Loh?” kesabaranku tak kuasa lagi membendung luapan emosi.

“Aha….” jawabnya sambil cengar cengir gak jelas..Matanya menggambarkan semacam kemenangan kayak pemancing dapat ikan. Ah ekspresi ini sudah beberapa kali kulihat dan selalu berujung satu statement “menyebalkan”… Secara tidak langusng di telah meng-KO diriku dengan pukulan yang telak tapi sedikit meleset..Hahaha selalu saja kuanggap seperti itu.

” Nah begini saudaraku…” dia mulai membuka sesi ceramah ala ustadz yang sok kenal sok akrab.. “Siapa pula kamu, mengaku saudaraku ” gumamku dalam hati.. Dia itu bukannya jelek atau apa, tapi bagiku dia itu sosok yang mendekati perfect-lah. Nah aku yang kadang berseberangan jadi seperti air sumur dan air got.. Baiklah daripada kelamaan ntar mending aku fokus mendengarkan ocehannya yang aku rasa sama saja, itu-itu aja…Tapi sok dekatnya itu lho yang bikin gimana gitu… huaaaaaaahh..

“Ingat pemalas itu seperti orang yang tidur di rel-kereta. Ia akan terlindas oleh kereta yang lewat karena ia tidak segera menghindar.” Nah benerkan, cerita kereta ini emang sudah berkali-kali ia lontarkan..Mana menjelang romadhon tiket kereta sudah habis lagi.. Tapi untung sudah beli..

” Pemalas berarti memboroskan waktu dengan sia-sia, padahal banyak banget yang bisa dilakukan. Sayangnya waktu gak bisa diberikan atau diminta dari orang lain. Atau kalo yang gak ikhlas bisa diperjualbelikan. Kalo bisa kan kita bisa sedekah waktu biar dipake mereka yang kekurangan waktu. Tapi gak bisa bro.. tiap orang ya punya jatah waktu 24 jam sehari semalam. Mau dipake serius ya segitu, mau dipakai main-main ya segitu..”  Aku tersenyum lucu..ah baru kali ini dia pake bahasa gak formal..biasanya formal banget..kayaknya dia dah stress, aku gak mempan pake bahasa formal.

” Nah dari yang 24 jam itu setiap detiknya adalah pertanggungjawaban di hadapan Alloh. Orang yang rugi kalo hari ni sama kayak kemaren, palagi lebih jelek. Satu-satunya cara adalah dengan menjadi lebih baik, better gitu bro..Indikasinya salah satu ni adalah memanfaatkan dengan baik. Gak ada orang besar yang dulunya adalah pemalas..Mereka semua orang yang rajin..bahkan mereka kadang kurang waktu saking banyaknya tugas. Nah dari situ Lu harus jadi orang yang rajin, rajin menuhin kebutuhan dunia, rajin kuadrat ngejar akhirat. Ingat kalo kita berhenti kita akan dilindas kereta jaman. Kita jalan-pun masih bisa terlindas. Satu-satunya cara biar selamat yaaa harus lebih cepat daripada kereta.”

“Kalo alih jalur aja gimana..weekssss” cibirku menyadari kekurangan kalimatnya..

” Ow tidak bisa..”jawabnya..”kita cuma punya satu jalur waktu saja bro, gak ada yang lain..mau pindah, pindah ka mana atuh kang?”

” Owwww gitu ya…”gumamku. Logat sundanya benar-benar bikin ketawa. mending kalo nadanya orang sunda, ini mah katanya aja yang sunda, logatnya jawa aseli.

” Ni bro yang terakhir buat hari ini…kalo pengen maju..ni waktunya buat ngerubah diri. jadi orang yang rajin. gak ada kata terlambat bro yang ada tinggal mau apa kagak. Mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan istiqomah….” penutup ceramahnya yang singkat itu. Selepas itu dia berlalu kembali ke rumahnya di dalam hatiku.

Bagaimanapun kadang aku risih dengan ocehannya. Tapi gimana lagi dia yang selalu mengingatkanku di kala salah. Tetap sabar menasehati meski berulang-ulang aku tak jua mengamalkan nasehatnya. Baru-baru ini dia menyinggung-nyinggung tentang taubat. Ah dia emang bagus kok, aku akui itu, cuma aku saja yang belum bisa mengikuti kata-katanya di dalam hatiku.

Nah setelah nasehatnya itu kayaknya biar dia gak ngomel lagi aku perlu merubah ni sedikit-demi sedikit. Gak ada salahnya dicoba, toh jadi pemalas juga gak ngasilin apa-apa. Hahahah tetep motivasinya materi.. Ups jangan sampe dia tahu, soalnya pasti akan ceramah lagi soal keikhlasan. Tapi bilang dalam batin aja dah ketahuan..baiklah nyerah aja deh..

– Bandung, minggu pagi tujuh hari sebelum Ramadhan 1432 H

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: