Beranda > Seputar NiKaH > Yang Kebelet Nikah Karena Kompor : Pikir Dulu Deh !!!

Yang Kebelet Nikah Karena Kompor : Pikir Dulu Deh !!!


Menikah. Suatu kata kerja yang agaknya begitu menggoda jiwa-jiwa muda, terlebih mahasiswa. Teringat semasa kuliah dulu, sekitar semester 3 saat pertama kali kenal dengan lebih dekat (ehem ehem…) dengan hal-hal bertemakan nikah. Saat itu entah bagaimana hal ihwalnya tema nikah ternyata menjadi favorit bagi sebagian mahasiswa terutama para aktivis dakwah. Semangat untuk meraih setengah din itu begitu menggelora, ditambah lagi dengan buku-buku yang bertemakan seputar pernikahan semakin membuat semangat itu terpompa. Belum lagi ceramah-ceramah yang selalu mengumandangkan untuk segera menikah. Sungguh sebuah situasi yang klop untuk memunculkan semangat yang kalau boleh dibilang ‘ga ada habisnya’.

Selepas beberapa tahun meninggalkan dunia kampus kemudian mengamati dari luar saya menemukan suatu situasi yang tidak jauh beda mengenai semangat yang saya rasakan sejak duduk di semester 3 tadi. Yup, tema menikah tetep menjadi tema yang sanggup memompa semangat para aktivis untuk segera menikah.

Ya ya ya. Menikah di usia muda bahkan usia kuliahpun tidak menjadi masalah. Bahkan sangat dianjurkan untuk menghindarkan fitnah dan meraih pahala yang banyak. Fakta membuktikan bahwa ada juga yang berhasil menjalani pernikahan di usia muda tersebut. Bahkan fakta inipun sudah tersiar kemana-mana. Para pelaku yang berhasil ini menggembor-gemborkan semangat untuk menikah muda di berbagai buku dan forum. Walhasil jadilah kompor yang menyemangati para kaum muda kita untuk segera menikah.

Menyegerakan menikah lebih utama bagi mereka yang sudah siap dengan kehidupan berkeluarga. Namun bagi yang belum siap atau belum memahami betul bagaimana sih berkeluarga itu nanti, sebaiknya pikir-pikir dulu deh. Kalau kita cermati, kompor-kompor yang berbentuk buku maupun forum kajian itu lebih banyak memandang pernikahan dari sisi yang “mengenakkan”. Bagaimana tidak, kaum muda diiming-imingi dengan indahnya pernikahan muda, betapa nikmatnya hidup bersama pendamping yang sholihah/ sholeh, bisa berangkat kuliah bareng, ada yang memperhatikan dan lain sebagainya. Akibatnya para kaum muda ini memandang bahwa menikah itu enak dan menyenangkan.

Jarang ada buku yang secara adil mengungkapkan serba-serbi tentang kehidupan berkeluarga. Bagaimana mengelola keuangan, bagaimana memanajemen konflik dalam keluarga, bagaimana mengasuh anak dan lain sebagainya. Walhasil kaum muda ini hanya mempersiapkan diri mengenyam nikmatnya menikah, sehingga ketika nantinya menikah karena terkompori oleh buku-buku itu maka akan terkejut menemui kenyataan yang tidak seperti gambaran di buku. Ingatlah, menikah dengan wanita sholehah maupun laki-laki sholeh sekalipun tidak menjamin keluarga muda akan langsung menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah (SAMARA). Para orang yang telah berpengalaman mengatakan bahwa keluarga SAMARA itu tidak serta merta terbentuk melainkan perlu proses yang panjang bahkan selama usia pernikahan tersebut. Jadi sesholeh atau sesholihah apapun pasangan kita tetap saja butuh penyesuaian dan adaptasi. Dan hal inilah yang banyak menyebabkan konflik. Tidak cocok inilah, menuntut perubahan itulah dan banyak hal lain. Sekali lagi ini tidak berbanding lurus dengan tingkat keimanan seseorang.

Jadi ada baiknya bagi kaum muda yang memang belum siap dengan dunia pernikahan tidak perlu sering-sering membaca buku bertema pernikahan (yang tidak adil tadi) ataupun terlalu sering mengikuti forum-forum kompor nikah. Cukuplah kita tahu apa sih yang harus dipersiapkan untuk menikah kemudian fokus untuk mempersiapkan diri. Kadang geli juga kalau lihat para aktivis muda ini bicara tentang nikah atau lebih tepatnya membicarakan angan-angan tentang pernikahan. Hmmm mungkin saya juga menggelikan waktu kulaih dulu yaa..xixixixixi.

Yakinlah bahwa jodoh itu sudah diatur oleh Allah SWT tentang waktu, siapa jodoh kita dan bagaimana caranya. Yang paling penting adalah mempersiapkan diri, baik merasakan indahnya berkeluarga maupun menghadapi masalah-masalah keluarga. Banyak berdiskusi dengan para senior alias yang sudah menikah dan yang bisa bersikap bijak artinya tidak justru menjadi kompor agar tahu seluk beluk beluk dunia keluarga. Bersegera menikah jika sudah mampu jauh lebih utama daripada menunda.

Saya berpesan, Bagi yang kebelet nikah karena kompor : PIKIR DULU DEH !!!

  1. 3 Oktober 2012 pukul 6:38 am

    Wah wah.. bagus sekali, ijin menyimak pak..🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: