Ekspedisi Merbabu


Petualangan Dimulai

Jam menunjukkan pukul 14.45 WIB ketika aku bersiap berangkat menuju tempat berkumpulnya teman-teman di DPC Tempel. Dengan membawa peralatan lengkap (setidaknya perkiraanku) dan semangat tinggi mulailah kutapakkan kaki di pedal sepeda motor. Penuh riang gembira menuju DPS Tempel. Sabtu sore itu aku dan teman-teman bersiap untuk melakukan perjalanan pendakian Merbabu. Sebuah ekspedisi yang bagi sebagian anggota kelompok ini merupakan hal baru. Meskipun kebetulan bertepatan dengan tanggal 13 Pebruari dan diperkirakan di puncak keesokan harinya tanggal 14 Pebruari tapi ini tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang orang bilang V-Day. Jauh panggang dari api.V-Day ke laut aje.

Rencana awal berkumpul di DPC jam 15.00 tepat tak boleh tak kurang seharusnya. Akupun sampai di DPC terlambat 10 menit dari waktu yang telah disepakati. Sampai di tempat sudah berkumpul beberapa orang yang juga dengan peralatan yang lengkap ( menurut mereka tentunya ). Cuaca agaknya kurang mendukung sore itu. Tak lama hujan pun turun, semakin basah tanah yangs beelumnya juga terguyur hujan. Sementara itu juga masih menunggu teman-teman lain yang belum hadir. Pikirku, ternyata memang benar-benar orang kita belum bisa disiplin. Buktinya sepakat jam 15.00 tapi sampai jam hampir jam 16.00 pun belum juga lengkap. Sambil menunggu yang belum datang dan juga sudah waktunya sholat ashar maka kami segera wudhu dan sholat diiringi rintik hujan yang tak kunjung reda.

Jam 16.30 usai sudah penantian kami. Semua sudah berkumpul dan bersiap-siap. Saatnya baris untuk segera menagwali acara perjalanan sore itu. Layaknya acara semi-resmi, pembukaan-pun dilakukan dengan hikmad. Ada doa dan juga pelepasan dari ketua DPC Tempel. Kurang lebih 10 menit acara itu berlangsung ( sudah termasuk di foto sebelum berjuang ). Dengan jumlah personil kurang lebih 20 orang dengan komposisi 4 akhwat dan lainnya ikhwan kami bersiap berangkat. Yang akhwat dengan setianya naik mobil sambil menjaga tas-tas yang memang dititpkan di mobil. Sementara ikhwan mengendarai sepeda motor berboncengan bagi yang ada boncengannya. Hujan yang terus mengguyur tak menyurutkan semangat dan laju motor kami menyusuri jalan Magelang ke arah barat. Dengan berselimutkan mantol atau jas hujan bagaikan pasukan yang siap membabat habis segala rintangan, tertata rapi seperti bangunan yang kokoh kami terus melaju membelah dinginnya hujan dan gelapnya senja.

Jalan Magelang yang begitu panjang perlahan-lahan dilalui dengan pasti. Kiri-kanan kulihat saja banyak bangunan yang mulai menyalakan lampunya karena hari semakin gelap. Dan sekitar jam 17.30 kami telah sampailah kepada saat yang berbahagia untuk selanjutnya berbelok ke arah utara (menurutku) menuju Wekas. Rencana kami akan mendaki Merbabu melalui jalur Wekas ( yang pada akhirnya aku tahu ternyata jalur ini hanya punya 2 pos untuk sampai ke puncak, betapa menyenangkannya, hanya 2 pos saja).

Adzan maghrib berkumandang ketika perjalanan sampai di kecamatan Pakis. Tampak masjid-masjid mulai menampakkan bentuknya setelah lampunya dinyalakan. Orang-orang bersarung dan berpeci duduk-duduk di depan masjid menunggu adzan dan sholat maghrib. Sementara itu kami tetap melaju sampai akhirnya berhenti di Wekas tepat saat masjid seberang jalan mengumandangkan adzan. Biasalah di daerah pegunungan adzan-pun bisa tidak berbarengan. menyesuaikan kondisi masyarakatnya. Kami berhenti sejenak didepan gapura. Dengan penuh antusias kami segera melepaskan beban dan belanja sedikit barang di toko sebelahnya. Ada yang membeli Aq** btol, ada yang membeli roti pisang, ada yang membeli baterai senter. Sementara aku membeli V***zone untuk bekal ke puncak. Setelah itu kami pun bersiap, berjajar rapi dengan senyum dan rangkulan persahabatan. Kami siap BERFOTO.

Setelah dirasa cukup befoto kami-pun melanjutkan perjalanan menuju ke atas.
Aku pun bertanya ” Kapan sholat-nya?”.
” Di atas nanti ada mushola kita akan sholat disana” kata pak Pimpinan.
Okelah kalau begitu, tanpa basa basi kami melanjutkan perjalanan ke mushola yang dimaksud. Ternyata biarpun suaranya terdengar dekat tetapi ternyata butuh waktu juga mencapainya. Bukan jaraknya yang jauh melainkan medan perjalanan yang menanjak berbonus bebatuan persis tatanan bebatuan sebelum diaspal ( memang kelihatannya akan diaspal). Dengan penuh perjuangan, deru motor menanjak sementara pembonceng harus rela mendaki tanjakan dengan jalan kaki akhirnya sampai juga di mushola yang dimaksud. Disinilah kesempatan pertama di pendakian ini aku merasakan dinginnya air pegunungan. Saking dinginnya bisa dibilang seperti air es. Brrrr.. dingin betul. Meski demikian takkan menyurutkan niat untuk sholat Maghrib. Biasa sebagaimana dalam perjalanan, sholat kami-pun di jamak qoshor. Jadi untuk sholat isya, kami sudah tidak melakukan lagi.

Selesai sholat perjalanan dilanjutkan menuju homebase yang nantinya sebagai tempat singgah sebelum naik maupun ketika turun nanti. Jam 20.00 kurang sampailah di homebase yang dimaksud di desa Pedakan (semoga tak salah nama tempat) di rumah seorang warga yang memang menjadi persinggahan para pendaki. Di rumah ini kami beristirahat sebentar menunggu malam selain juga untuk makan malam sebelum perjalanan.Suasan begitu dingin menusuk sampai ke kulit. Kalau orang bilang atis (dingin-dingin gimana gitu). Sambil menikmati makan malam dan menyeruput teh panas kami menyiapkan yang akan dibawa ke puncak. Tas punggung beserta seluruh isinya dipersiapkan. Tongkat bagi yang kebagian juga tak lupa disiapkan. Untungnya aku kebagian satu tongkat yang pas dan nyaman dipegang.

Jam 22.00 WIB kurang lebihnya kami berkumpul di halaman masjid untuk memulai prosesi pendakian gunung. Acara semi-formal dibuka dengan tilawah, sedikit penyemangat dan doa. Dengan teriakan takbir maka dimulailah ekspedisi kami. Bismillah Allohu Akbar.

<000>

Jalan itu Benar-Benar Panjang

Setapak demi setapak kami mulai melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak dan tanjakan yang terjal. Suasana begitu dingin ditemani bintang gemintang di langit yang menandakan bahwa cuaca begitu cerah. Kelap-kelip lampu di kota menambah indah pemandangan malam itu. Sungguh syahdu. Di kejauhan sayup sayup suara sholawatan terdengar begitu indah seakan mampu membawaku ke alam religi yang begitu dalam. Subhanalloh.

Meskipun suasana begitu indah, namun jalan setapak yang kami lalui tak serta merta menjadi indah pula. Tanjakan tak juga berubah jadi dataran, rumput-rumput basah di sekeliling tak jua menjadi taman bunga nan semerbak baunya. Yang ada hanyalah jalan dan jalan. Sesekali untuk memulihkan energi kami bersitirahat barang semenit dua menit diantara belokan tanjakan. Atau juga joke-joke segar dari bapak-bapak. Bisa pula request lagu-lagu harokah, campursari atau lagu-lagu melow yang bisa bikin tidur.

Ada saatnya juga berhenti sebentar untuk menikmati bekal yang kami bawa yaitu rambutan. Dengan model berantai kami lahap rambutan meski cuma kebagian satu buah atau dua buah. Tak lupa kulitnya dikumpulkan di plastik agar tak tercecer. Namun pada kenyataannya tercecer juga. Huh gak bisa menjaga kebersihan, pikirku. Tapi ya sudahlah besok saja kalau balik diambil lagi.

Berbekal senter dan tongkat aku dan teman-teman menyusuri gelapnya malam, terjalnya tanjakan dan dinginnya hawa pegunungan. Suasana begitu hening seakan semua berkonsentrasi menahan lelah yang kadang tak lagi mau bersahabat. Sesekali candaan itu memcah kesunyian malam, namun lelah itu tak juga mau peduli. Tapi bagaimanapun perjalanan harus terus berlanjut. Yah sesekali berfoto ada baiknya juga, agar kelelahan itu tersimpan dalam sebuah gambar. Perjalanan itu sungguh menyita perhatian kami sehingga hampir tak mengetahui keadaan sekitar selain tanjakan yang di depan mata.

Tengah malam pukul 2.00 dini hari setelah perjalanan selama 3 jam sampailah kami di pos kedua (menurutku, pos pertama adalah homebase-nya). Di sini kami mendirikan tenda dome bagi yang membawa. Sementara yang lainnya sibuk membuat mie- instant, kopi susu atau jahe panas. Nah ini dia aku baru tahu kalau lupa sama sekalimembawa bekal yang satu itu. Kukira mie saja cukup, ternyata kopi susu atau jahe perlu juga. Baru kepikiran di saat membutuhkan. Fyuuuh. untungnya teman-temanku baik-baik. Jadi mau berbagi.Itu jadi sebuah pelajaran berharga pertamaku yaitu jangan lupa bawa minuman penghangat tubuh kalau mendaki gunung.

Di pos ini kami berkesempatan beristirahat barang satu jam. Boleh digunakan untuk apa saja termausk tidur. Nah kugunakanlah kesempatan ini untuk tidur agar besoknya lebih segar. Namun dinginnya pegunungan membuat tidur tak nyenyak karena selalu merasa`kedinginan. Jadi teringat pula bahwa sebelum berangkat sudah diwanti-wanti orangtua agar membawa jaket yang tebal. Tapi akhirnya urung kubawa juga. Walhasil kedinginan menjadi hal yang pantas kudapatkan. Pelajaran keduaku yaitu jangan lupa bawa jaket yang tebal agar tak kedinginan saat mendaki.

Jam 3.00 komandan sudah berkoar-koar menyuruh untuk segera berberes karena perjalanan akan dilanjutkan. Terpaksalah tidur harus diakhiri dan semua bersiap melakukan perjalanan lagi. Seperti biasa komandan memberitahu bahwa perjalanan berikutnya lebih sulit maka dari itu harus lebih semangat. Benar saja belum ada setengah jam berjalan, medan yang dialalui tampak lebih sulit dari sebelumnya. Kemudian lama-kelamaan medan semakin menggila saja. Terjal, licin dan sempit menjadi perpaduan yang apik untuk menghantarkan kepada kelelahan yang sebenarnya. Tapi bagaimanapun perjalanan harus tetap dilanjutkan meski beberapa kali harus beristirahat karena capek.

Subuh menjelang tepat sebelum kami sampai percabangan menuju puncak. Bau belerang yang mulai tercium semakin membuat suasana gunung semakin terasa di pagi itu. Area vegetasi yang mulai habis, pohon-pohon tinggi yang sudah tak dijumpai menandakan bahwa puncak semakin dekat. Berhubung waktu subuh sudah masuk beberapa menit yang lalu dan takut kehabisan waktu dan media wudhu maka kami mengadakan sholat subuh berjamaah di tempat yang agak lapang. Bagaimanapun sholat tak seperti biasanya kulakukan. Seumur-umur baru kali itu aku sholat mengenakan sepatu. Serasa pasukan brigade izzudin al-qosam yang sedang mendirikan sholat dengan seragam pejuangnya yang gagah berani. Wajarlah karena pagi itu kami akan menaklukkan Merbabu dengan semangat dan gagah berani (maunya sih..)

Beberapa menit berjalan dari tempat sholat sampailah kami dipercabangan menuju puncak. Di kiri menjulang puncak Syarif dengan ketinggian 3119 mdpl dan sebelah kanan puncak Kenteng Songo 3142 mdpl. Dengan semangat yang membara dan dikarenakan rombongan yang mulai berjarak, mulailah aku melangkahkan kaki ke kiri menuju puncak. Terjalnya dakian dan sulitnya medan tak menyurutkan langkahku dan beberap temanku untuk segera sampai di puncak. Meski beberapa kali berhenti menghela napas akhirnya sampailah kami di puncak Syarif.

Dengan mengucap takbir dan syukur aku berteriak merasa menang sampai di puncak. Allohu Akbar. Suasana begitu indah, matahari belum begitu tinggi meski juga masih malu-malu menunjukkan sinarnya. Kabut yang menutupinya seolah menajdi tirai pelindung agar tak terlihat mataku. Tugas pertama di puncak ini adalah foto-foto. Aha seolah foto-foto adalah kegiatan wajib kami. Gunung-gunung di seberang sana dengan gagahnya berdiri menjadi pancang bagi bumi ini. Gunung-gunung yang bergerak sebagaimana geraknya awan kokoh menghunjamkan kakinya di tanah. Indahnya. Tak salah jika dijadikan background foto. Puas rasanya sampai di puncak gunung, seakan lelah terbayarkan dengan lunas. Namun kepuasan itu tak berlangsung lama setelah kami menyadari bahwa ternyata rombongan yang lain tidak jua ke puncak Syarif. Ternyata rombongan lain menuju puncak Kenteng Songo. Astaghfirulloh..Jadi ternyata salah arah. Awalnya aku ingin menyerah saja, sudahlah di sini saja juga tak apa-apa. Namun sejurus kemudian karena teman-teman bersemangat untuk mencapai puncak satunya maka akupun bersemangat pula. Motivasinya adalah hari ini harus mencapai dua puncak, Syarif dan Kenteng SOngo. Bismilah mulailah kami menuruni puncak Syarif dan menyusul ke puncak Kenteng Songo.

Dengan sisa-sisa tenaga dan dengan susah payah akhirnya kami berhasil mencapai Kenteng SOngo tepat pukul 8.00 lebih sedikit. Rasa senang, bahagia, syukur dan puas sambung menyambung menjadi satu. Apa hal yang pertama dilakukan setelah itu. Benarlah kiranya jika jawabannya adalah berfoto. Subhanalloh, kok kelihatannya tujuan pendakian adalah foto-foto. Namun ternyata cuaca kurang bersahabat. Kabut dengan angkuhnya menyembunyikan sang mentari. Bahkan hangat mentari-pun terhalangi. Yang ada hanya putih dan putih serta hawa dingin. Namun begitu rasa puas masih terasa, tentu saja kelelahan tak bisa ditawar lagi. Ada yang istirahat dengan tidur, ataupun dengan duduk-duduk saja, meski ada juga yang jalan kesana kemari. Sambil beristirahat sekedar melepas penat, kami membuat mie instant dan kopi susu atau jahe di puncak gunung.Sensasi yang luar biasa. Hasil akhir yang seadanya dinikmati diatas gunung ternyata mampu memberi kesan berbeda. Hmmmm nikmatnya…

(bersambung…)

  1. ice
    5 Mei 2010 pukul 6:43 am

    “Pikirku, ternyata memang benar-benar orang kita belum bisa disiplin. Buktinya sepakat jam 15.00 tapi sampai jam hampir jam 16.00 pun belum juga lengkap”
    hehe.. tapi masnya juga telat.

  2. satufikr
    6 Mei 2010 pukul 1:58 am

    ya begitulah.. mungkin jargon kebersamaan telah mendarah daging, jadi biar terlambat asalkan bersama-sama alias banyak yang melakukannya seakan sudah dimaafkan.. tapi tetep pada akhirnya tidak membawa kemajuan ke arah yang lebih baik..

  3. 3 Maret 2014 pukul 8:01 am

    untuk tgl 10,11,12 merbabu aman kn?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: